Monday, 29 August 2011

PENGERTIAN AL-QUR'AN

“Inilah Al-Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan didalamnya, merupakan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
(QS. Al-Baqarah [2] : 2)
PENGERTIAN AL QUR`AN
A. Definisi Al-Qur’an
Pembahasan mengenai pengertian Al-Qur’an akan ditinjau dari dua aspek, yakni pembahasan dari sudut pandang bahasa & dari sudut pandang syara’.
Menurut Bahasa
Qur’an pada mulanya seperti qira’ah yaitu masdar dari qara’a, qira’atan, qur’anan. Qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun dan qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lain dalam satu ucapan yang tersusun rapi. Allah SWT berfirman :
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ(17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya.” (Al-Qiyamah [75] : 17-18)
Qur’anah disini berarti qira’atahu (bacaannya/cara membacanya). Kita dapat mengatakan qara’tuhu, qur’an, qira’atan wa qur’anan artinya sama saja. Disini maqru’ (apa yang dibaca) diberi nama Qur’an yakni penamaan maf’ul dengan masdar.
Menurut Syara’
Secara syara’ Qur’an ialah kalamullah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan secara mutawwatir & membacanya merupakan ibadah.
Definisi ditas dianggap telah cukup sempurna, karena defenisi harus merupakan deskripsi realitas yang mempunyai ciri jami’ & mani’.[1] Berikut ini penjelasan mengenai definisi diatas ditinjau dari ciri jami’ & mani’ :
1. Kata kalamullah, berfungsi untuk mengkhususkan hanya kepada kalam Allah SWT.
2. Kata merupakan mukjizat, berfungsi menjelaskan bahwa seluruh Al-Qur’an adalah mukjizat.
3. Kata diturunkan, berfungsi untuk mengecualikan kalamullah yang lain.
Contoh kalamullah lainnya adalah :
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Katakanlah : "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula) (QS. Al-Kahfi (18) : 109)
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS.Luqman (31) : 27)
4. Kalimat kepada Nabi Muhammad SAW, berfungsi untuk mengecualikan nabi-nabi & rasul yang lain.
5. Kalimat diriwayatkan secara mutawwatir, berfungsi untuk mengecualikan riwayat yang tidak mutawwatir.
6. Kalimat membacanya merupakan ibadah, berfungsi untuk mengecualikan hadits Nabawi & Qudsi.[2]

B. Nama-Nama Al-Qur’an
Allah SWT menamakan Qur’an dengan beberapa nama. Imam As-Suyuthi[3] bahkan menyebutkan ada 46 buah nama. Muhammad Husain Abdullah[4] mengatakan bahwa sebagian nama tersebut sebenarnya merupakan sifat-sifat Al-Qur’an bukanlah namanya. Manna’ Khalil Al-Qattan[5] memaparkan nama & sifat dari Al-Qur’an. Berikut nama-nama Qur’an menurut beliau :
1. Al-Qur’an, Allah SWT berfirman :
إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ ...
“Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (Al-Isra’ [17] : 9)
2. Al-Kitab, Allah SWT berfirman :
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Telah kami turunkan kepadamu Al-Kitab yang didalamnya ...” (Al-Anbiya’ [21] : 10)
3. Al-Furqan, Allah SWT berfirman :
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada ...” (Al-Furqan [25] : 1)
4. Az-Zikr, Allah SWT berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Az-Zikr, …” (Al-Hijr [15] : 9)
5. At-Tanzil, Allah SWT berfirman :
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dan Qur’an ini Tanzil (diturunkan) dari Tuhan …” (Asy-Syua’ara [26] : 192)
Sebutan Al-Qur’an & Al-Kitab adalah lebih popular. Dr. M. Abdullah Daraz berkata, “Ia dinamakan Qur’an karena dibaca dengan lisan & dinamakan Al-Kitab karena ia ditulis dengan pena. Kedua nama ini menujukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya.” [6]

C. Sifat-sifat Al-Qur’an
Allah SWT melukiskan Al-Qur’an dengan beberapa sifat, diantaranya :
1. Nur (Cahaya), Allah SWT berfirman :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Wahai manusia telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-Mu & telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (An-Nisa’ [4] : 174)
2. Mauizah (Nasehat), Syifa (Obat), Huda (Petunjuk), Rahmah, firman Allah SWT :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari Tuhanmu & obat bagi yang ada didalam dada & petunjuk serta rahmat ...” (Yunus [10] : 57)
3. Mubin (Yang menerangkan), Allah SWT berfirman :
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah SWT & Kitab yang menerangkan.” (Al-Maidah [5] :15)
4. Mubarak (Yang diberkati), Allah SWT berfirman :
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ ...
“Dan Qur’an ini adalah yang telah kami berkati, membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya….” (Al-An’am [6] : 92)
5. Busyra (Khabar gembira), Allah SWT berfirman :
... مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
“…yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadikan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah [2] : 97)
6. ‘Aziz (Yang mulia), Allah SWT berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ
“Mereka yang mengingkari Az-Zikr ketika Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka pasti akan celaka). Qur’an kitab yang mulia.” (Fussilat [41] : 41)
7. Majid (Yang dihormati), Allah SWT berfirman :
بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَجِيدٌ
“Bahkan yang mereka dustakan itu adalah Qur’an yang dihormati.” (Al-Buruj [85] :21)
8. Basyir (Pembawa khabar gembira) dan Nazir (Pembawa peringatan), Allah SWT berfirman
كِتَابٌ فُصِّلَتْ ءَايَاتُهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(3) بَشِيرًا وَنَذِيرًا ...
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa khabar gembira & yang membawa peringatan...” (Fussilat [41] : 3-4)

D. Keistimewaan Al-Qur’an
Banyak ulama yang telah menulis tentang keistimewaan Al-Qur’an.[7] Ada yang berdasarkan hadits shahih tapi ada pula berdasarkan hadits lemah bahkan palsu. Orang yang menciptakan hadits palsu mengenai keistimewaan Al-Qur’an dengan tujuan untuk membuat orang kembali mencintai Qur’an. Ini merupakan tindakan yang menunjukkan kebodohan.
1. Keistimewaan bagi pembacanya dan yang mendengarkannya, Allah SWT berfirman :
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Apabila dibacakan Al-Qur’an (kepadamu), maka dengarkanlah baik-baik & perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf [7] : 204)
“Siapa saja membaca satu huruf dari Al-Qur’an, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas 10 X lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud, yang mengatakan hadits ini hasan & shahih)
Adapun hadits yang membicarakan hal ini adalah :
“Dari Umamah ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
“Bacalah Al-Qur’an! Sebab dihari kiamat nanti akan datang sebagai penolong bagi pembacanya.” (HR. Turmudzi)
2. Keistimewaan bagi yang mempelajari dan mengajarkannya
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an & mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
3. Keistimewaan bagi yang mengkhatamkan & penghafalnya
“Abu Hurairah berkata, “Siapa yang membaca Al-Qur’an dalam setiap tahun dua kali (khatam) maka ia telah menunaikan haknya, sebab Nabi SAW membacanya kepada JIbril pada tahun kematiannya sebanyakdua kali.” (Diriwayatkan oleh Hasan bin Ziad)
“Sesungguhnya orang yang didalam dadanya tidak terdapat sedikitpun ayat Al-Qur’an, ibarat rumah yang roboh.” (HR. Turmidzi)
Dalam hadits dari Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengangkat pemimpin utusan dari kalangan sahabatnya berdasarkan hafalan mereka.[8]
4. Keistimewaan surat yang dikandungnya
“… Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Al-Baqarah & Ali Imran. Karena kedua-duanya akan datang dihari kiamat seolah-olah menjadi dua tumpuk awan yang menaungi pembacanya atau menjadi dua burung yang sedang terbang lalu datang hendak membela pembacanya …(HR. Muslim)
“Jantung Al-Qur’an adalah surat Yasiin. Tidaklah surat itu dibaca oleh seseorang yang menghendaki keridlaan Allah SWT & keselamatan pada hari akhirat, melainkan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya,” (HR. Abu Dawud)
“Siapa saja yang membaca Al-Waqi’ah tiap-tiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kepapaan.” (HR. Al-Baihaqi)
“Rasulullah menerangkan bahwa sesungguhnya Qulhuwallahu ahad itu menyamai 1/3 dari Al-Qur’an.” (HR. Muslim)
“Berkata Abu Hurairah, “Rasulullah SAW bersabda, “Dalam Al-Qur’an terdapat surat berisi tiga puluh ayat yang dapat memberikan syafa’t kepada yang membacanya sehingga ia akan diampuni, yaitu Tabarakalladzi biyadihil Mulku.” (HR. Abu Dawud)
“Siapa saja membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah tiap-tiap malam, terpeliharalah dia dari bencana.” (HR. Ahmad)

E. Beda Al-Qur’an dengan Hadits Nabawi & Hadits Qudsi
Secara ringkas perbedaan antara Al-Qur’an dengan hadits Nabawi & hadits Qudsi dapat dilihat pada tabel berikut ini :

No Al-Qur’an Hadits Nabawi Hadits Qudsi
1 Asal lafalnya dari Allah SWT Rasulullah SAW Rasulullah SAW
2 Penyandarannya kepada Allah SWT Rasulullah SAW Allah SWT/Rasul
3 Derajat riwayat Semua mutawwatir Tidak semua mutawwatir Tidak semua mutawwatir
4 Kemungkinan ditiru Tidak dapat Dapat Dapat
5 Membacanya Ibadah (pahala tiap huruf) Tidak pahala secara khusus Tidak pahala secara khusus
6 Membacanya dalam shalat Boleh Tidak boleh Tidak boleh
7 Menyentuh bagi yang junub Tidak boleh Boleh Boleh
8 Contohnya ………… ………… …………

Contoh Hadits Qudsi :
1. Contoh yang disandarkan kepada Rasul SAW adalah :
“Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW mengenai apa yang diriwayatkan dari Tuhannya AWJ, “Tangan Allah itu penuh, tidak dikurangi oleh nafkah, baik diwaktu malam ataupun siang hari….” (HR. Bukhari)
2. Contoh yang disandarkan kepada Allah SWT adalah :
“Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berkata : Allah SWT berfirman, “Aku menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku. Bila dia menyebut-Ku didalam dirinya, maka Akupun menyebutnya di dalam diri-Ku. Dan bila dia menyebut-Ku di kalangan orang banyak, maka Aku-pun menyebutnya dikalangan orang banyak yang lebih baik dari itu ….” (HR. Bukhari dan Muslim)

F. Al-Qur’an Mukzizat Terbesar Rasulullah SAW
Kemukjizatan (i’jaz) adalah menetapkan kelemahan. Apabila ijaz telah terbukti, maka tampaklah kemampuan mu’jiz. Yang dimaksud dengan i’jaz dalam pembicaraan ini ialah menampakkan kebenaran Nabi SAW dengan menampakkan kelemahan orang Arab & generasi berikutnya untuk menghadapi Al-Qur’an. Dan mukjizat adalah sesuatu hal luar biasa yang disertai tantangan & selamat dari perlawanan.
Lalu dimana letak dari kemukjizatan dari Al-Qur’an ? Manna Al-Qattan mengemukakan beberapa pendapat[9] :
1. Abu Ishaq An-Nizam & pengikutnya dari kaum Syi’ah seperti Al-Murtada berpendapat, kemukjizatan Al-Qur’an adalah dengan cara sirfah (pemalingan). Menurut Nizam sirfah adalah bahwa Allah SWT memalingkan orang Arab untuk menantang Al-Qur’an padahal sebenarnya mereka mampu menghadapinya. Sedang menurut Al-Murtada sirfah adalah bahwa Allah SWT telah mencabut dari mereka ilmu yang diperlukan untuk menghadapi Al-Qur’an agar mereka tidak mampu membuat semisal Al-Qu’an.
2. Kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada pemberitaannya tentang hal-hal ghaib yang akan datang maupun yang jauh telah berlalu.
3. Kemukjizatan Al-Qur’an karena mengandung bermacam ilmu & hikmah yang sangat dalam.
4. Kemukjizatan Al-Qur’an karena mengandung badi’ yang sangat unik & khas.
5. Kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada balagahnya yang mencapai tingkat tertinggi & tidak ada bandingnya.
Pendapat pertama dibatalkan oleh Qadi Abu Bakar Al-Baqalani dengan berkata, “Salah satu hal yang membatalkan pendapat sirfah ialah kalaulah menandingi Qur’an itu mungkin tetapi mereka dihalangi oleh sirfah, maka kalam Allah itu tidak mukjizat, melainkan sirfah itulah yang mukjizat. Dengan demikian, kalam tersebut tidak mempunyai kelebihan apapun atas kalam yang lain.” [10]
Imam Suyuthi mengatakan bahwa Allah SWT telah menantang manusia & jin dalam QS. Al-Isra’ [17] : 88. Seandainya mereka telah dibuat tidak berdaya sedemikian rupa, maka tidak ada gunanya tantangan Allah SWT itu. Sebab sama saja dengan berhimpunnya orang-orang yang sudah mati.[11]
Pendapat kedua, menurut Zarkasyi tidak dapat diterima, sebab ia menuntut ayat-ayat yang tidak mengandung berita tentang hal-hal ghaib yang akan datang & yang telah lalu, tidak mengandung mukjizat. Dan ini adalah bathil, sebab Allah SWT telah menjanjikan setiap surah sebagai mukjizat tersendiri.[12]
Imam Taqiyuddin An-Nabhani mengatakan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an itu terletak pada Al-Qur’an itu sendiri, yaitu pada lafadz-lafadz yang mengandung makna. Jadi segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an tiada lain terdapat pada uslubnya. Yaitu cara pengungkapan makna-makna dengan ungkapan-ungkapan bahasa.[13] Hal ini senada dengan Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani[14] yang berkata, “Segi kemukjizatannya terletak pada susunan kalimat & kepadatan maknanya.”
Begitu pula pendapat Manna Al-Qattan[15], “Pada hakikatnya, Qur’an itu mukjizat dengan segala makna yang dibawakannya & dikandung oleh lafadz-lafadznya.” Selanjutnya ia menjelaskan tiga macam aspek kemukjizatan dari Al-Qur’an :
1. Kemukjizatan bahasa, misalnya dalam keteraturan bunyi yang indah, lafadz-lafadz yang memenuhi hak setiap makna pada tempatnya, adanya khitab yang dapat dipahami setiap orang walau berbeda tingkat intelektualnya serta kalimatnya dapat memuaskan akal & menyenangkan perasaan
2. Kemukjizatan ilmiah, hal ini terletak pada dorongannya kepada umat untuk berfikir disamping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan & mengajak mereka memasukinya.
3. Kemukjizatan tasyri’. Al-Qur’an merupakan Dustur Tasyri paripurna yang menegakkan kehidupan manusia diatas dasar konsep yang paling utama. Al-Qur’an mengandung berbagai hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya & sesamanya.
Ulama berbeda pendapat mengenai kadar kemukjizatan dari Al-Qur’an. Berikut ini beberapa pendapat yang beredar :
1. Kemukjizatan Al-Qur’an dengan keseluruhannya bukan sebagiannya.
2. Sebagian kecil atau sebagian besar dari Al-Qur’an juga merupakan mukjizat.
3. Kemukjizatan itu cukup hanya dengan satu surah lengkap.
Manna Al-Qattan mengatakan bahwa mengenai segi atau kadar kemukjizatan, kita cukup mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah. Ini saja sudah cukup. Jika seorang penyelidik yang objektif & mencari kebenaran memperhatikan Al-Qur’an dari aspek manapun yang ia sukai. Maka tentu kemukjizatan itu ia dapatkan dengan terang & jelas.[16]
Kesimpulannya adalah Al-Qur’an itu memang benar-benar merupakan mukjizat yang besar yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu beliau SAW bersabda :
“Setiap Nabi pasti diberi sesuatu yang serupa, yang dengan itu, manusia akan meyakininya. Tetapi yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang telah diturunkan Allah kepadaku, maka aku berharap menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya.” (HR. Bukhari)

No comments:

Post a Comment